Masjid Nabawi
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Kumpulan Teks Khutbah Jumat Berasas NU

Disusun lengkap, rapi, mengikuti manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah. Referensi terpercaya untuk para khatib.

Lihat Khutbah

Manhaj NU

Materi disusun berdasar faham Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah.

Teks Lengkap

Khutbah pertama, kedua, dan doa dalam format yang praktis dan mudah dibaca.

Update Rutin

Selalu ada materi baru yang relevan dengan momentum keislaman terkini.

Ornament

Khutbah Terbaru

Lihat Semua
Decoration
Syawal
29 April 2026 (01:06)

Memuliakan Waktu Mulia: Mengisi Zulqaidah dengan Amal Shalih

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَزْمِنَةَ وَالْأَيَّامَ مَوَاقِيتَ لِلْعِبَادَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ بِالْبَرَكَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ أَخْلَصَ لِلّٰهِ فِي الْأَقْوَالِ وَالنِّيَّاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَّذِي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang mendorong kita untuk melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga dengan ketakwaan itu, Allah memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib ingin mengajak kita semua untuk merenungkan sebuah nikmat besar yang seringkali luput dari perhatian kita, yaitu nikmat waktu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Saat ini kita berada di bulan Zulqaidah, salah satu dari empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan oleh Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama sepakat bahwa empat bulan yang dimaksud adalah Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan-bulan ini memiliki keistimewaan, di mana amal saleh dilipatgandakan pahalanya, dan perbuatan dosa pun menjadi lebih besar kemurkaannya. Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dan memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (Muharram), dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Meskipun hadits ini secara khusus menyebutkan Muharram, para ulama seperti Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa keutamaan ini juga berlaku untuk seluruh bulan haram, termasuk Zulqaidah. Ini menunjukkan betapa besarnya peluang meraih pahala di bulan ini.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Lalu, bagaimana cara kita mengisi bulan Zulqaidah yang mulia ini dengan amal saleh? Pertama, perbanyaklah puasa sunnah. Puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), atau puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) adalah amalan yang sangat dianjurkan. Kedua, perbanyaklah istigfar dan taubat. Bulan haram adalah waktu yang tepat untuk meninggalkan maksiat dan kembali kepada Allah. Ketiga, perbanyaklah sedekah dan silaturahmi. Keempat, perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan berzikir.

Janganlah kita termasuk golongan yang lalai dan merugi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering membuat manusia tertipu (lalai) adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita taufik dan hidayah untuk memuliakan waktu-waktu yang dimuliakan-Nya, khususnya bulan Zulqaidah ini, dengan amal-amal yang diridhai-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ الْعَظِيْمِ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ هِمَّتَهُمْ فِي إِعْلَاءِ كَلِمَتِكَ وَنَصْرِ دِيْنِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Decoration
Idul Adha
22 April 2026 (07:55)

Pentingnya qurban dalam segi sosial

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُضْحِيَةَ شِعَارًا مِنْ شَعَائِرِ الدِّيْنِ، وَأَمَرَنَا بِالْإِحْسَانِ إِلَى الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga dengan takwa, kita meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib ingin mengajak kita semua untuk merenungkan salah satu ibadah agung yang Allah syariatkan, yaitu ibadah qurban. Bukan sekadar menyembelih hewan, qurban memiliki dimensi sosial yang sangat dalam dan luas. Ibadah ini mengajarkan kita tentang keikhlasan, kepedulian, dan persaudaraan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa esensi qurban bukanlah pada daging atau darahnya, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan hati kita. Namun, di balik itu, qurban memiliki dampak sosial yang luar biasa. Mari kita telaah beberapa aspek sosial dari ibadah qurban.

Pertama, Qurban Menumbuhkan Rasa Kepedulian dan Solidaritas Sosial. Ibadah qurban adalah momen di mana kita diajarkan untuk berbagi dengan sesama, terutama dengan mereka yang kurang mampu. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat. Ini adalah wujud nyata dari perintah Allah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani)

Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya qurban bagi mereka yang mampu. Ini bukan sekadar anjuran, tetapi sebuah peringatan keras agar kita tidak meninggalkan ibadah ini. Dengan berqurban, kita merasakan langsung bagaimana berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Kedua, Qurban Mempererat Tali Persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah). Proses penyembelihan, pengolahan, dan pembagian daging qurban melibatkan banyak orang. Mulai dari panitia, tetangga, hingga penerima manfaat. Semua bekerja sama dalam suasana kebersamaan dan kegembiraan. Inilah momen yang sangat baik untuk mempererat silaturahmi dan menghilangkan sekat-sekat sosial. Kebersamaan ini mengingatkan kita bahwa kita adalah satu tubuh, satu umat, yang saling merasakan suka dan duka.

Ketiga, Qurban Mengajarkan Keikhlasan dan Pengorbanan. Secara sosial, qurban mengajarkan kita untuk rela berkorban demi orang lain. Kita mengeluarkan harta yang kita cintai untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah latihan jiwa untuk melepaskan sifat kikir dan egois. Pengorbanan ini juga mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putranya Nabi Ismail ‘alaihis salam, yang rela berkorban demi menjalankan perintah Allah. Semangat pengorbanan inilah yang harus kita tanamkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Keempat, Qurban Menjadi Sarana Pemerataan Ekonomi. Dalam skala yang lebih luas, qurban menjadi salah satu instrumen distribusi kekayaan. Daging yang biasanya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, pada hari raya qurban dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Ini adalah bentuk keadilan sosial yang diajarkan Islam. Dengan berqurban, kita turut serta dalam menghidupkan ekonomi lokal dan membantu meringankan beban saudara-saudara kita.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita jadikan momen qurban ini sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita, sekaligus sebagai wadah untuk menebar kebaikan dan kepedulian sosial. Janganlah kita sia-siakan kesempatan ini. Bagi yang mampu, bersegeralah untuk berqurban. Dan bagi yang belum mampu, mari kita doakan dan bantu saudara-saudara kita agar mereka juga bisa merasakan kebahagiaan hari raya.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang peduli terhadap sesama. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَاجْمَعْ شَمْلَ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى الْخَيْرِ وَالْهُدَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Decoration
Idul Adha
16 April 2026 (04:47)

Idul Adha dalam kacamata syariat dan dampak sosial nya

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْأَعْلَى، خَلَقَ فَسَوَّى، وَقَدَّرَ فَهَدَى أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ، وَطَاعَتِهِ عَلَى الْجِدِّ وَالتَّبْصِيرِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: (وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang tidak hanya di lisan, tetapi meresap ke dalam hati, terpancar dalam amal, dan menjadi benteng dari segala kemaksiatan. Takwa adalah bekal kita yang paling utama menuju keridhaan-Nya.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Tidak lama lagi kita akan menyambut hari yang agung, hari Raya Idul Adha. Hari di mana kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk melaksanakan shalat Ied dan menyembelih hewan kurban. Namun, sudahkah kita memahami hakikat dari hari raya ini? Sudahkah kita merenungi makna terdalam di balik syariat yang mulia ini?

Idul Adha bukan sekadar tradisi tahunan atau ritual seremonial belaka. Ia adalah puncak dari pelaksanaan salah satu rukun Islam yang agung, yaitu ibadah haji. Dan bagi kita yang tidak berhaji, ia diwujudkan dengan penyembelihan hewan kurban. Ibadah ini sarat dengan pelajaran berharga, baik dari sisi syariat maupun dampak sosialnya.

Pertama, dari sisi syariat, kurban adalah bentuk ketundukan total seorang hamba kepada Rabb-nya. Ia adalah napak tilas dari keteladanan agung Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya, Ismail ‘alaihissalam. Sebuah kisah tentang ketaatan tanpa batas, pengorbanan tanpa reserve, dan kepercayaan penuh kepada janji Allah.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash-Shaffat: 107)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap pengorbanan dan ketundukan kita kepada Allah, pasti akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik. Ketika Nabi Ibrahim rela mengorbankan apa yang paling dicintainya demi perintah Allah, maka Allah menggantinya dengan kemuliaan dan menjadi teladan abadi bagi seluruh umat. Inilah esensi kurban: membunuh sifat keakuan, keserakahan, dan kecintaan berlebihan pada dunia dalam diri kita.

Kurban juga merupakan simbol pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah. Hewan yang kita sembelih adalah tanda syukur atas nikmat hidup dan rezeki yang melimpah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الْأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum menetes ke bumi. Maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban. (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah; hasan)

Inilah keutamaan yang agung. Kurban adalah amalan yang langsung dicintai oleh Allah, dan nilainya terjaga hingga hari akhir. Ia menjadi pembersih jiwa dari sifat kikir dan cinta harta.

Kedua, dari sisi dampak sosial, kurban adalah ibadah yang memiliki dimensi horizontal (hablum minannas) yang sangat kuat. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan tetangga. Inilah wujud nyata dari kepedulian sosial dalam Islam. Ibadah ini mengajarkan kita untuk berbagi kebahagiaan, merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita yang kurang beruntung, dan memperkuat tali silaturahmi.

Idul Adha mengajarkan solidaritas. Saat seorang yang mampu menyembelih hewan dan membagikannya, ia telah meringankan beban saudaranya yang mungkin setahun penuh jarang menikmati daging. Ini adalah pendidikan jiwa untuk tidak individualis dan egois. Islam mengajarkan bahwa harta kita sejatinya ada hak orang lain di dalamnya.

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali ‘Imran: 92)

Kurban adalah implementasi dari ayat ini. Kita mengorbankan harta yang kita sukai (hewan ternak yang bagus dan mahal) untuk meraih kebajikan di sisi Allah dan kebahagiaan sesama.

Oleh karena itu, marilah kita menyambut Idul Adha dengan pemahaman yang benar. Bukan hanya sebagai hari libur dan makan-makan, tetapi sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan, mengasah kepasrahan seperti Nabi Ibrahim, dan memperluas kepedulian sosial kita. Bagi yang mampu, tunaikanlah kurban dengan ikhlas dan pilihlah hewan yang terbaik. Bagi yang belum mampu, bersemangatlah untuk meraih kemampuan itu, dan turut merasakan kebahagiaan dengan membantu prosesi ibadah kurban.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 127)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Decoration
Syawal
26 Maret 2026 (13:38)

Puasa Sunnah di bulan Syawal

NASKAH KHUTBAH JUMAT: PUASA SUNNAH DI BULAN SYAWAL

KHUTBAH I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang tidak hanya sebatas ucapan, tetapi meresap ke dalam hati, terpancar dalam amal perbuatan, dan menjadi benteng dari segala kemaksiatan. Hanya dengan takwalah kita akan meraih kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Baru saja kita meninggalkan bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan. Bulan di mana kita dilatih untuk menahan diri, meningkatkan ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun, janganlah kita merasa bahwa hubungan intens dengan Allah hanya berlangsung selama Ramadhan. Ibadah dan ketaatan harus terus berlanjut. Salah satu pintu yang Allah buka untuk kita agar tetap terhubung dengan kemuliaan Ramadhan adalah melalui puasa sunnah di bulan Syawal.

Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Inilah keutamaan yang luar biasa. Satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Puasa Ramadhan (30 hari) setara dengan 300 hari. Puasa enam hari di Syawal setara dengan 60 hari. Jika dijumlahkan, menjadi 360 hari, mendekati satu tahun penuh (355/356 hari dalam kalender Hijriyah). Ini adalah karunia dan kemudahan dari Allah bagi hamba-Nya yang ingin mengejar pahala.

Jamaah yang berbahagia,

Puasa Syawal ini adalah ibadah yang sangat dianjurkan, meskipun hukumnya sunnah. Ia bagaikan penyempurna dan pengikat bagi puasa Ramadhan kita. Ia menunjukkan bahwa kita bersyukur atas taufik Allah yang telah memampukan kita menyelesaikan Ramadhan, dan kita rindu untuk terus beribadah kepada-Nya. Puasa ini juga menjadi tanda diterimanya puasa Ramadhan kita, karena salah satu tanda diterimanya suatu ibadah adalah dilanjutkan dengan ibadah lainnya.

Tidak ada ketentuan harus berurutan. Puasa enam hari ini boleh dilakukan secara berurutan di awal Syawal, atau berselang-seling sepanjang bulan Syawal, sesuai dengan kemampuan dan kesibukan masing-masing. Yang penting, niatkan dengan ikhlas karena Allah semata, dan tunaikan sebelum bulan Syawal berakhir.

Namun, perlu diingat, bagi yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan, wajib hukumnya untuk mengqadha’nya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mengerjakan puasa sunnah Syawal. Mengqadha’ puasa Ramadhan lebih diutamakan daripada puasa sunnah Syawal, karena yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 200)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ وَأَطِيْعُوْهُ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ مَكْرُوْهٍ وَسُوْءٍ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالرِّزْقَ الطَّيِّبَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Decoration
Idul Fitri
18 Maret 2026 (02:53)

Menjaga Kualitas Ibadah Setelah Meninggalkan Ramadhan

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَالْعَمَلِ بِطَاعَتِهِ، وَاجْتِنَابِ مَعْصِيَتِهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang tidak hanya di lisan, tetapi meresap ke dalam hati, terpancar dalam amal, dan menjadi pakaian kita setiap saat, di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Baru saja kita meninggalkan bulan yang mulia, bulan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan latihan intensif ibadah, pengendalian diri, dan pembersihan jiwa. Di dalamnya, kita berlomba-lomba mengejar pahala, memperbanyak tilawah, qiyamullail, sedekah, dan amal kebajikan lainnya. Suasana spiritual begitu terasa, semangat beribadah begitu membara. Namun, pertanyaan besar yang harus kita renungkan sekarang adalah: Bagaimana kualitas ibadah kita setelah Ramadhan berlalu?

Apakah kita termasuk golongan yang ibadahnya hanya musiman, bagai bunga yang mekar di musim semi lalu layu dan mati? Ataukah kita termasuk golongan yang berhasil memetik buah dari madrasah Ramadhan, sehingga ibadah kita setelahnya justru lebih baik, lebih ikhlas, dan lebih berkualitas?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ 

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini adalah prinsip dasar. Ibadah bukanlah kegiatan temporer, tetapi sebuah komitmen sepanjang hayat. Ramadhan adalah terminal pengisian bahan bakar spiritual untuk perjalanan panjang sebelas bulan ke depan. Ia adalah momentum untuk membangun kebiasaan (habit) positif yang harus kita pertahankan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ 

“Amal yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang terus-menerus (dilakukan) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah kunci menjaga kualitas ibadah pasca-Ramadhan: istiqamah dan konsistensi. Lebih baik shalat sunnah dua rakaat yang kita jaga setiap hari, daripada shalat malam berjam-jam hanya di bulan Ramadhan lalu kita tinggalkan sama sekali. Lebih baik sedekah rutin sepuluh ribu rupiah setiap Jumat, daripada sedekah jutaan rupiah hanya di bulan Ramadhan lalu kita berhenti.

Jamaah yang berbahagia,

Ada beberapa hal yang perlu kita jaga agar kualitas ibadah kita tidak turun drastis setelah Ramadhan:

Pertama: Menjaga Kualitas Shalat. Di Ramadhan, kita terbiasa shalat berjamaah di masjid, khusyuk, dan tepat waktu. Jangan biarkan kebiasaan ini hilang. Shalat adalah tiang agama. Jagalah ia dengan menyempurnakan wudhu, menghadirkan hati, dan berusaha berjamaah di masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً 

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua: Menjaga Hubungan dengan Al-Qur’an. Di Ramadhan, kita akrab dengan Al-Qur’an, tilawah, tadabbur, bahkan khatam. Jangan biarkan mushaf kita berdebu. Tetapkan target tilawah harian yang realistis, misalnya satu halaman atau satu juz per minggu, yang penting kontinu. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” (QS. Fathir: 29)

Ketiga: Menjaga Lisan dan Hati dari Dosa. Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri dari segala yang membatalkan dan mengurangi pahalanya. Setelah Ramadhan, tahanan itu jangan dilepaskan. Teruslah menjaga lisan dari ghibah, dusta, dan perkataan sia-sia. Jagalah hati dari iri, dengki, dan kebencian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ 

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat: Menjaga Semangat Sedekah dan Berbagi. Ramadhan memompa semangat kedermawanan. Lanjutkanlah! Sedekah tidak hanya mengalirkan pahala, tetapi juga membersihkan harta dan menolak bala. Jadikan sedekah sebagai gaya hidup, bukan hanya di bulan tertentu.

Kelima: Menjaga Qiyamullail (Shalat Malam). Shalat Tarawih adalah latihan qiyamullail. Cobalah untuk tetap bangun malam meski hanya dua rakaat sebelum shubuh. Rasakan kedekatan dengan Allah di sepertiga malam terakhir.

Intinya, jadikan Ramadhan sebagai starting point, bukan finishing point. Ibadah kita harus naik kelas, tidak boleh stagnan apalagi turun. Evaluasi diri: Amal apa yang kita tingkatkan di Ramadhan? Pilihlah satu atau dua amal utama untuk kita pertahankan dengan konsisten sebelas bulan ke depan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ 

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Marilah kita bersungguh-sungguh (mujahadah) untuk tetap istiqamah. Perjuangan melawan kemalasan dan hawa nafsu pasca-Ramadhan adalah jihad yang sesungguhnya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ مَكْرُوْهٍ وَسُوْءٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَارِفِيْنَ بِفَضْلِ شَهْرِ رَمَضَانَ، الْعَامِلِيْنَ بِمَا فِيْهِ، الْحَافِظِيْنَ لِحَقِيْقَةِ الْعِبَادَةِ بَعْدَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِي

Decoration
Ramadhan
11 Maret 2026 (01:45)

hakekat zakat fitrah

KHUTBAH I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Takwa yang tidak hanya di lisan, tetapi membumi dalam amal perbuatan, terlebih di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini. Salah satu amalan yang mengiringi puasa kita adalah zakat fitrah. Pada kesempatan ini, mari kita renungkan bersama hakikat dari zakat fitrah yang kita tunaikan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Zakat fitrah bukan sekadar ritual tahunan atau tradisi turun-temurun. Ia adalah ibadah yang memiliki makna sangat dalam. Secara bahasa, ‘fitrah’ berarti suci, asal kejadian, atau naluri. Zakat ini disebut ‘fitrah’ karena ia menyucikan jiwa orang yang berpuasa dari kelalaian dan kata-kata sia-sia yang mungkin terjadi selama Ramadhan. Ia juga menjadi penyempurna puasa kita.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, dan sebagai makanan bagi orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat, maka itu hanyalah sedekah biasa.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)

Lihatlah, jamaahku, betapa agung tujuan zakat fitrah ini. Pertama, ia adalah ‘thuhrah’, pembersih dan penyuci. Puasa kita yang sebulan penuh, meski telah maksimal, sangat mungkin tercampur dengan kelalaian, ghibah, atau pandangan yang haram. Zakat fitrah inilah yang membersihkan noda-noda kecil tersebut, sehingga puasa kita benar-benar sempurna dan suci.

Kedua, ia adalah ‘thu’mah’, makanan bagi kaum miskin. Inilah dimensi sosial yang sangat nyata. Zakat fitrah memastikan bahwa pada hari raya yang penuh suka cita itu, tidak ada seorang muslim pun yang kelaparan atau merasa kekurangan. Semua bisa merayakan kemenangan dengan perut yang terisi. Ini adalah bentuk solidaritas dan kepedulian yang diajarkan Islam.

Ketiga, zakat fitrah adalah tanda syukur. Ia adalah bentuk syukur kita kepada Allah yang telah memberikan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Dengan mengeluarkan sebagian harta, kita mengakui bahwa semua rezeki adalah milik Allah.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا 

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian. (QS. Al-Baqarah: 29)

Maka, hakikat zakat fitrah adalah ibadah penyucian jiwa, kepedulian sosial, dan wujud syukur, yang semuanya bermuara pada peningkatan ketakwaan kita. Ia adalah bukti nyata bahwa Islam tidak hanya mengurusi hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas).

Oleh karena itu, tunaikanlah zakat fitrah dengan penuh kesadaran akan maknanya. Keluarkanlah dengan harta yang baik, sesuai takaran yang ditetapkan, dan berikanlah kepada yang berhak, lebih utama sebelum shalat Id dilaksanakan. Jangan sampai kita meremehkannya atau menundanya tanpa alasan yang syar’i.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ 

Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang yang rukuk. (QS. Al-Baqarah: 43)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Topik Pilihan

Kategori Khutbah